Sunarso Lengser, Kenapa Cari Ganti Kepala SMA 3 Susah?

Kenapa Cari Ganti Kepala SMA 3 Susah?

Punya Tanggungan Program Akselerasi yang Langka di Jateng
Pantas saja mencari pengganti kepala SMA 3 sulit. Sebab, sekolah ini termasuk penggelar program langka di Jawa Tengah.
iswanya -dua bulan lalu- berbuah sang kepala sekolah, Sunarso, lengser. Pasca demonstrasi, kondisi SMA 3 tidak banyak yang berubah.Para siswa program khusus ini diantaranya disyaratkan memiliki kemampuan bahasa Inggris. Kemudian calon siswa memiliki bakat yang menonjol misalnya dibidang olahraga dan kelebihan-kelebihan lain.Indonesia. Sisanya ada yang tidak melanjutkan sekolah, ada pula yang masuk ke perguruan tinggi swasta (PTS) yang disukai.Para siswa program ini lebih inklusif. Misalnya, ketika guru belum datang atau jam pelajaran tengah kosong, mereka tidak keluar ruangan maupun membuat gaduh di dalam. “Para siswa belajar sendiri di mejanya masing-masing. Berbeda dengan program reguler, jika tidak ada gurunya mereka suka keluyuran ke luar ruangan,” beber guru bahasa Indonesia di program tersebut.Para siswa berinteraksi penuh dengan sang guru. Misalnya, setiap habis pelajaran, mereka selalu bertanya. “Mereka bersikap lebih dewasa. Tidak seperti siswa program reguler yang terlihat pasif,” tandas pria berkacamata ini.

GUNAWAN, Solo

NAMA SMA Negeri 3 Solo belakangan terkenal bukan hanya karena dianggap SMA favorit. Aksi demonstrasi para s

Setiap hari, para siswa dan guru menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan normal. Bahkan, program akselerasi di sekolah setempat juga tidak terpengaruh dengan proses pergantian kepala sekolah.

Ketika koran ini bertandang ke SMA 3 sekitar pukul 11.30 kemarin (9/5), tepat para siswa pulang sekolah. Tapi, sebagian terlihat masih berada di tempatnya, menunggu serangkaian kegiatan ekstrakulikuler. Mereka yang masih di sekolah kebanyakan kelas 10 dan 11.

Di depan ruang guru, tampak sejumah tenaga pendidik sedang ngobrol santai. Diantara mereka adalah guru mata pelajaran di program akselerasi, Bambang Dwi Sasongko. “Silakan masuk, Mas,” tutur Bambang.

Di ruang rapat berukuran sekitar 10 x 10 meter ini Bambang membeberkan kondisi program akselerasi. Pada 2003 lalu, pemerintah hanya menunjuk dua sekolah tingkat atas untuk menjalankan program akselerasi.

Ketika itu, di Jawa Tengah pemerintah hanya menunjuk dua sekolah untuk percontohan program akselerasi. Di Jateng Utara ditunjuk SMA 3 Semarang, sementara sebelah Selatan SMA 3 Solo. Dalam perkembangannya, SMA 3 Solo tergolong berhasil menjalankan program tersebut.

Pertama kali launching program ini Juni 2003 lalu, siswa yang mendaftar ratusan orang. Mereka adalah calon siswa kelas 10 di sekolah itu, yang masuk kriteria yang ditentukan sekolah. Namun, dalam setiap angkatan yang diterima hanya 60 siswa. Begitu seterusnya, sampai di angkatan ke-5 ini SMA 3 sudah meluluskan sekitar 200 siswa. “Sejak program ini dijalankan, tiga angkatan yang sudah lulus,” terang Bambang yang juga wakasek kurikulum ini.

Program unggulan percepatan ini memang diperuntukan bagi para siswa yang memiliki kemampuan lebih. Sebab, untuk lulus sekolah hanya makan waktu 2 tahun. Walaupun sama-sama sekolah 6 semester seperti kelas reguler, namun setiap semesternya hanya makan waktu 4 bulan.

 

Setelah melalui seleksi yang ketat, outputnya juga bisa diandalkan. Sebab, 95 persen lulusan program akselerasi diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) yang tersebar di

“Hanya satu-dua orang yang masuk ke PTS. Mereka beralasan menyukai kegiatan ekstra kampusnya, seperti panjat tebing, pecinta alam, dan alasan lain,” tutur mantan sekretaris program akselerasi di SMA 3 ini.

Proses belajar mengajar program akselerasi ini berbeda dengan kegiatan belajar program reguler. Ruang belajarnya disendirikan, mata pelajarannya juga berbeda dengan program reguler. Program ini memiliki mata pelajaran tambahan.

Diantaranya, studi outbond, membuat karya ilmiah sekaligus presentasi, kunjungan ke beberapa instansi, dan praktek kerja lapangan. Proses kegiatan belajar mengajarnya pun berbeda dengan reguler.

 

Kegiatan belajar mengajar juga terlihat hidup.

Meski bersikap inklusif, para siswa tidak mau ketinggalan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler layaknya program reguler. Mereka juga sering mengadakan diskusi, terkait mata pelajaran yang perlu dipecahkan bersama-sama. (*/tej)

Tinggalkan Balasan