Kasus SMU N 3 Solo (Lanjutan Lagi)

Minggu, 06 Apr 2008
Pasca Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Solo Sunarso Nonaktif dari Jabatannya

Siswa dan Alumni Bersyukur, Guru Merasa Iba
Terhitung Per 1 April lalu, Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Solo Sunarso memilih untuk non aktif dari jabatnnya. Ini buntut dari demo siswa sekolah favorit tersebut yang menuntut transparansi pembangunan sekolah. Bagaimana tanggapan elemen di sekolah itu ?

GUNAWAN, Solo

Suasana SMA Negeri 3 Solo Kamis lalu (3/4) terlihat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Sunarso bakal tidak lagi menginjakan kakinya di sekolah tersebut. Hal ini menyusul keputusan Sunarso mengajukan surat nonaktif dari jabatannya sebagai kepala sekolah.

Para siswa tampak enjoy mengikuti aktivitas belajar mengajar. Berbeda dengan hari sebelumnya yang tampak tegang jika Sunarso muncul di sekolah itu.

Sebagian besar siswa memang sudah mengetahui >track record< kepala sekolahnya. Mereka menilai ada dugaan penyimpangan dana pembangunan sekolah itu. Akhirnya bom waktu yang telah lama dipendam itupun meletus juga dengan ditandai aksi besar-besaran siswa tersebut akhir Maret lalu.

Para siswa menganggap Sunarso yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini. Sebab, ketika para siswa mencoba membuka kasus ini pada tahun-tahun sebelumnya, kepala sekolah itu selalu tertutup.

“Kalau benar-benar nonaktif syukurlah. Jadi keinginan teman-teman (para siswa, Red) nyaris kesampaian. Sebab target teman-teman, kepala sekolah harus mundur dari jabatannya sebagai konsekuensi logis terhadap kasus ini,” tutur Zahra, 17, salah satu pengurus Save Our School (SOS) sekolah setempat.

Zahra tidak langsung besar kepala karena aksinya itu bisa memengaruhi posisi kepala sekolah. Sebab, para siswa hanya sebatas memberikan koreksi kepada kepala sekolah terkait kebijakan pembangunan di sekolah. Jika koreksi ini benar adanya, berarti menjadi sebuah penghargaan buat para siswa yang bisa mengungkap “borok” sekolahnya.

Meski demikian, para siswa tidak larut dalam kasus yang ada di sekolahnya. Para siswa, terutama kelas 3 kini sudah kembali konsentrasi penuh menghadapi ujian nasional yang dijadwalkan 20 April mendatang. “Kami sudah memberikan pengertian kepada teman-teman untuk fokus ke pelajaran lagi,” jelas siswa berkacamata ini.

Siswa lain, Rio Setiawan, 17 pun juga tidak menduga kalau kepala sekolah bisa dinonaktifkan. Sebab usai di demo, kepala sekolah sudah memenuhi sebagian tuntutan para siswa. Yakni, siap mencairkan anggaran kegiatan perpisahan kelas 3 sebanyak Rp 14,7 juta.

Tuntutan ini salah satu materi demo kemarin. Sebab kepala sekolah sebelum didemo tidak memberikan keterangan pasti pencairan anggaran ini. “Jawaban kepala sekolah ketika itu tidak mau mencairkan. Demo usai, kepala sekolah mengajak dialog siswa. Akhirnya dengan berat hati dia mau mencairkan anggaran ini,” terang dia.

Kalangan guru pun kaget mendengar status Sunarso nonaktif. Salah satu guru perempuan di sekolah itu mengatakan bahwa Sunarso selama ini dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin dan >semanak< (familier). Selama ini, di mata guru selalu menunjukan sikap yang baik.

“Saya sudah berteman dengan Pak Narso ini 20 tahun lebih. Jadi sudah tahu sepak terjang dia. Jika melakukan penyelewengan, pasti saya tahu,” tutur guru perempuan ini yang menolak namanya disebutkan.

Guru perempuan ini tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya gara-gara Sunarso “hengkang” dari jabatannya. Selain sudah berteman lama dengan Sunarso, guru tadi tidak bisa membayangkan nasib SMA Negeri 3 ke depan. Apalagi sebentar lagi akan menggelar ujian nasional. “Harapan kami ada solusi terbaik bagi sekolah ini,” mintanya.

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan Sutarto mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar tidak akan terpengaruh penonaktifan kepala sekolah. Begitu juga menjelang dan pelaksaan ujian nasional yang direncanakan 20 april mendatang. “Kalau benar-benar nonaktif, nanti akan segera ada penjabat sementara (Pjs)-nya,” ujar dia.

Sutarto mengaku belum tahu secara langsung jika Sunarso nonaktif dari jabatannya. Dia hanya mendengar dari koran yang dibacanya. “Saya juga sempat kaget kalau pak kepala sudah nonaktif,” katanya dengan nada heran.

Tapi, Sutarto bisa melihat dari absensi Sunarso berangkat sekolah. Belakangan ini Sunarso memang tidak muncul di kantor. Jika muncul tidak menentu. “Beberapa hari yang lalu saya ketemu Pak Narso di sekolah sudah sekitar pukul 12.00. Dari raut wajahnya saya tidak tega melihatnya. Sangat pucat dan tidak seperti biasanya riang,” tutur wakasek baru ini.

Penonaktifan Sunarso juga ditanggapi positif kalangan alumni SMA N 3. Mereka memberikan apresiasi kepada siswa generasi saat ini bisa menggelar aksi mengungkap dugaan penyimpangan di sekolah itu. Para alumni “Ini sebuah prestasi bagi siswa SMA Negeri 3 sekarang,” ujar Teo Silus Hartono, 18, mantan ketua Musyawarah Perwakilan Kelas (MPK).

Teo pun lantas bercerita, kalau siswa sekarang ada beberapa alat pendukung untuk mengungkap kasus di sekolahnya. Kalau siswa dulu sebetulnya ingin menggelar demo, tapi belum ada alat bukti pendukungnya. Sekarang para siswa bisa memantau anggaran pembangunan di sekolahnya melalui rapat pleno.

Pada rapat ini – yang pesertanya komite sekolah, perwakilan siswa dan kepala sekolah – membahas semua kebijakan anggaran di sekolah. Jadi, jika ada penyelewengan terpantau jelas lewat forum ini.

“Kalau dulu siswa tidak diikutkan rapat pleno. Kebijakan anggarannya juga ditutup-tutupi pihak sekolah,” beber mahasiswa semester 2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

Sosok Sunarso di mata para alumni sebetulnya baik. Tapi kalau mengambil keputusan dinilai kurang demokratis dan kurang transparan. Sikap kepala sekolah ini membuat bertanya-tanya di kalangan siswa.

Sikap Sunarso ini sebetulnya sudah dirasakan para siswa sejak kepengurusan OSIS yang diketuai Dimas Tunggul. Ketika itu para siswa ingin mendemo kepala sekolah. Tapi OSIS belum cukup bukti untuk mendemo Sunarso.

“Kasus dugaan penyimpangan ini sebetulnya sudah sejak zaman saya dulu Mas. Tapi tidak bisa mengungkap karena belum ada buktinya. Kalau sekarang sudah ada bukti, kami dukung,” kata Dimas.

Aksi yang akan dilancarkan pada saat periode Dimas, saat itu baru sekedar isu. Meski baru sebatas isu, kepala sekolah saat itu sudah memanggil pengurus OSIS. Pengurus OSIS sempat di ancam jika menggelar demo. “Awas ya jika demo,” tutur mahasiswa semester 2 UNS Solo ini.

Koran ini berusaha konfirmasi ke rumah Sunarso di Ngruki RT 02 RW 16, Cemani, Grogol, Sukoharjo. Di depan rumahnya tampak sepeda motor yang masih parkir di halaman rumah. Hal ini menandakan Sunarso belum pergi >ngantor<. Padahal ketika itu sudah pukul 10.30.

Koran ini pun mengetuk pintu tiga kali. Yang muncul dari balik pintu gerbang seorang perempuan muda. Perempuan ini ternyata pembantunya Sunarso. “Ada apa ya Mas?,” tanya perempuan ini yang mengaku bernama Mulyani, 24 kepada koran ini ramah.

Setelah mengetahui maksud kedatangan koran ini, Mulyani pun masuk rumah dan berniat manggil majikannya. Sekitar tiga menit ditunggu, yang keluar bukannya Sunarso tapi Mulyani. “Bapak masih tidur dan tidak bisa diganggu. Lain kali saja ya,” tutur dia. (*)

Sumber : INDOPOS

Tinggalkan Balasan