DEMO DI SMU N 3 SOLO

Lippo Cikarang, 28 Maret 2007 

Sedih, mendengar berita di bawah ini. Sebagai salah satu alumni, saya merasa punya tanggung jawab moral akan kelangsungan citra baik sekolah tersebut. Tapi semuanya sudah terjadi, apa boleh buat (biasa bos jepang saya bilang kalau ada masalah), yang penting kedepannya harus lebih bisa dicermati semua permasalahn yang ada. Semua pihak harus bisa memandang dari berbagai segi/sudut baik itu pihak kepala sekolah, staff pengajar, staff tata usaha, murid, orang tua murid bahkan alumninya. Jangan sampai kita mempunyai pandangan “yang penting hari ini beres, besok urusan nanti”. Semua harus transparan, jangan mempunyai pikiran yang kurang bagus atau mencari keuntungan dari kondisi yang ada. Kalau saya cermati hal-hal demikian (demo) dilatarbelakangi masalah uang. Karena uang, kita jadi mengabaikan tali silahturohim yang seudah terjalin lama. Saya harap, semua pihak tidak memperparah keadaan, coba selesaikan dengan musyawarah terlebih dahulu, kalau memang tidak bisa, ya kita serahkan ke pihak yang berwenang, jangan sampai kita main hakim sendiri. Semoga permasalahan cepat tuntas dan aktifitas belajar adik-adik kita tidak terganggu. SALAM WIDYA KARMA JAYA

Kamis, 27 Mar 2008
Di Balik Nekat ”Tim 11” SMA 3 Mendemo Kepsek dan Sekolahnya

Karena Yakin “Hidung” Pemkot Tidak Tajam Mengendus
Pendiri Save Our School (SOS) SMA Negeri 3 Solo bukan hanya siap mendadak terkenal. Kelompok 11 siswa penggagas demo ini juga nekat menanggung risiko telah menyoal kepala sekolah dan tempatnya belajar.
GUNAWAN, SoloTIDAK ada rasa takut dari wajah-wajah pentolan SOS SMA Negeri 3 Solo, saat bertemu koran ini kemarin (26/3). Usai mengikuti tes Pra Ujian Nasional (Unas) di sekolahnya, mereka pun membeberkan latar belakang digagasnya aksi yang terbilang nekat itu.

Ternyata, para siswa ini berani berbuat berdasarkan pengalaman mereka menjadi pengurus OSIS SMA 7 periode 2006-2007. Karena itu, mereka berani membantah jika ada yang menuding aksi mereka Senin lalu (24/3) ditunggangi pihak tertentu.

Para siswa kelas 12 itu mengklaim memiliki alasan sangat mendasar untuk melakukan aksi senekat itu. Mereka gerah dengan adanya persoalan yang sangat kompleks di sekolahnya. Misal, soal hubungan yang tidak harmonis antarguru, pegawai, dan pejabat teras.Hingga, yang dianggap mereka paling parah, dugaan penyimpangan anggaran pembangunan di sekolah itu. Pengurus OSIS sering disambati guru dan karyawan lain, yang merasa hubungan di sekolah sudah tidak harmonis lagi.Kemarin, 5 siswa dari 11 anggota SOS berbincang dengan koran ini. Diantaranya adalah Zahra Eriza, 18, Dermawan, 18, dan Rio, 18. Nama-nama lain sengaja disembuyikan, karena tidak yakin dengan “keselamatan” mereka di sekolah. Kejengkelan yang berujung demo berawal dari perbedaan yang dirasakan mereka dengan sekolah lain. Khususnya, dari sisi pembangunan fisik dan fasilitas SMA 3 Unit Kerkop.SMA 3 memang memiliki dua unit sekolah, yaitu Kerkop dan Warung Miri. Siswa yang direkrut setiap tahun ajaran pun lumayan banyak, sampai 400-an orang. Dengan uang gedung lumayan besar, di atas Rp 1 juta, “pendapatan” sekolah itu setiap tahun ajaran tentunya lebih besar dibandingkan sekolah lain. Sebab, rata-rata rekrutmen di sekolah lain tidak sebanyak SMA 3.Namun, “tim 11″ melihat pembangunan fisik di sekolah itu ternyata berjalan sangat lambat. Sementara, setiap tahun uang sumbangan dari orang tua siswa terus mengalir. “Kami temui banyak kejanggalan. Misalnya, ada dualisme proposal anggaran ke komite sekolah dan orang tua siswa. Komite sekolah dilapori anggaran yang normal. Sementara, ke orang tua siswa dananya sudah dimarkup,” tegas Derma, panggilan Dermawan.

Derma, yang mantan ketua OSIS, pun juga mencium banyak ketidakberesan di sekolah. Terutama, saat dia dan rekan-rekannya mencermati anggaran pendapatan dan belanja sekolah (APBS), yang ada di tangan orang tua masing-masing.

Kebetulan, Derma dan sebagian anggota SOS lainnya sekolah di jurusan IPS. Sehingga, mereka bisa mencermati dan menghitung kejanggalan yang ada di laporan itu. Belum lagi sejumlah kejanggalan lain, saat mereka menggelar kegiatan sekolah.

“Anggaran sempat minta dipotong sampai jutaan rupiah oleh salah satu petinggi di sini, untuk alasan tidak jelas. Kegiatan kami pun sering dianggap tidak berarti. Kami cuma diminta belajar dan belajar, tidak usah gelar acara seperti itu,” timpal Zahra, yang mantan ketua majelis pertimbangan siswa.

Puncaknya, siswa berang ada ribut-ribut rapat pleno dengan komite dan kepala sekolah, 2007 lalu. Ketika itu, wali murid yang hadir membeberkan dugaan penyimpangan pembangunan di sekolah favorit di Solo itu. Tapi, pihak komite kala itu terkesan menutup-nutupi.

Pertemuan itu pun menjadi kacau. Sebab, para wali murid tidak puas dengan tanggapan komite sekolah dan membubarkan diri. Hal itu disaksikan para pengurus OSIS, yang memang mendapat jatah ikut rapat. “Rapat pleno ketika itu sempat >deadlock<,” tambah Zahra.

Mereka pun membantah aksi mereka itu subjektif dan tidak berdasar. Sebab, jelas mereka, kepengurusan OSIS era mereka sebelumnya sempat akan menggelar demo serupa. Namun, saat itu pengurus OSIS terlebih dahulu mengeluarkan ancaman ke pihak sekolah. Pihak sekolah pun membalas, dengan ganti mengancam akan mengeluarkan mereka. Aksi pun diredam dengan pertemuan-pertemuan informal diantara mereka.

Namun, di tangan Derma dkk, kasus itu tidak lagi dikompromikan. Mereka diam-diam mencari bukti-bukti tambahan, untuk menguatkan dugaan yang ditangkap dari APBS SMA 3. Pengurus OSIS sebelumnya, yang telah menjadi alumni, pun ikut dimintai pendapat. Sejumlah orang tua siswa pun membantu, khususnya yang tidak puas saat rapat pleno tahun lalu. “Akhirnya, kami lakukan aksi Senin kemarin,” seru Derma, bersemangat.

Dmeo itu diikuti ratusan siswa dari SMA 3 unit Kerkop dan Warung Miri. Derma dkk bukannya tidak sadar risiko yang mereka ambil. Apalagi, saat ini mereka sudah kelas 12. Artinya, mereka seharusnya lebih berkonsentrasi menghadapi ujian akhir. “Tapi, kalau tidak kami lakukan, tidak ada yang akan mengawali perubahan,” tandas Derma lagi.

Sampai kemarin, Derma dan teman-temannya belum mendapatkan tekanan dari pihak sekolah, usai memprakarsai demo. Tetapi, tak urung mereka mendapat komplain dari orang tua mereka. Pasalnya, ayah ibu dari “tim 11″ khawatir akan kelangsungan pendidikan anak-anak itu di SMA 3.

“Saya sempat dikomplain orang tua saya. Tapi, kami sudah bertekat kasus ini harus dibeberkan. Sebab, kami melihat pengawasan dari pemkot ke sekolah kami kurang. Padahal, kalau kami mau membeberkannya, jumlah (dugaan) penyelewengannya sangat besar,” lanjut Derma.

Sayangnya, Kepala SMA 3 Sunarso tidak dapat dimintai keterangannya. Saat akan dikonfirmasi, melalui staf tata usaha Sunarso menolak ditemui. Dia beralasan akan menemui tamu dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) Solo.

Pesan singkat (SMS) dari koran ini pun tidak ditanggapi. Telepon ke nomor ponsel Sunarso berkali-kali tidak diangkat, kendati nomor itu aktif. Saat demo sebelumnya, Sunarso juga tidak mau berkomentar banyak. Ditemui usai aksi, dia malah menyerahkan persoalan ini kepada komite sekolah.(*/tej)

Tinggalkan Balasan