Kata “wedangan” ini mengingatkan memoriku pada masa beberapa tahun silam akan suatu komunitas tanpa diskriminasi strata sosial yang sangat familiar bagi masyarakat di JOGLOSEMAR (Jogja, Solo, Semarang). Memori-memoriku mulai mereview semua yang berkaitan dengan kata tersebut. Banyak sekali hal-hal yang bersinergis dengan kata itu di memoriku, semakin lama bayangan itu semakin jelas dan seakan menjadi tontonan nyata di depan mataku, dari mulai penjualnya, customer yang beraneka ragam akan strata sosialnya, suasananya, makanannya, minumannya, celotah coleteh para customer, obrolan yang tak berkesudahan sampai dengan bentuk detail gerobaknya yang disinari dengan lampu minyak. Sungguh bayangan-banyangan seperti itulah yang selalu kurindukan dan yang tak dapat kutemui di sini (bekasi).
Wedangan berasal dari kata dasar wedang (bahasa jawa) yang artinya air minum. Sedangkan arti dari kata “wedangan” adalah sebuah warung makan/minum yang memakai gerobak atau dipikul, biasanya berhenti disuatu tempat (istilah angkotnya : ngetem) dan tidak pindah-pindah, buka dari sore hingga menjelang shubuh. Biasanya untuk penerangan dipakai lampu minyak, tapi dalam perkembangannya sekarang sudah menggunakan lampu listrik. Selain dikenal dengan nama wedangan, juga biasa disebut HIK kepanjangan dari Hidangan Istimewa Kampung. Adapun menunya sangat sederhana dan harganya relatif murah. Kalau dari minuman mulai dari jahe panas/dingin sampai susu dan cara penyajiannyapun bisa di campur campur, misal kopi jahe, susu jahe atu yang lainnya terserah selera customernya. Sedangkan untuk makanannya biasanya nasi bungkus yang dikenal dengan nama nasi kucing, yaitu nasi sedikit diberi lauk banding sedikit dengan sambal. Dalam perkembangannya, nasi kucing ini lauknya bermacam-macam, mulai dari tempe sampai dengan telur “dadar” yang diiris kecil-kecil. Selain minuman dan makanan, juga dihidangkankan berbagai macam gorengan, kue-kue tradisional, camilan lainnya dan tidak ketinggalan ada krupuknya.
A Zainudin (SAWIT),Lippo Cikarang, 24 Maret 20008 01:00